Rabu,14 Maret 2012 12:31 WIB

Penulis: Dimas Pradopo

Intip Proses Pembuatan Ban IRC dan Zeneos

Foto: Abed, Gajah Tunggal

Intip Proses Pembuatan Ban IRC dan Zeneos


Beberapa waktu yang lalu (6/3), PT Gajah Tunggal Tbk mengundang motorplus-online.com untuk mengunjungi pabrik ban motor mereka di Tangerang, Banten. Pabrik ini memproduksi ban IRC dan merek baru mereka Zeneos.

Kalau IRC adalah lisensi Jepang, sedang Zeneos adalah ban lokal dari Gajah Tunggal. Tapi keduanya diproduksi dengan standar yang sama baiknya. Dari pada penasaran langsung tengok proses pembuatan ban motor. Yuk disimak!

Proses pertama dalam pembuatan ban motor adalah mixing yaitu mencampur bahan baku karet mentah. Karet mentah ini dicampur dengan berbagai bahan kimia untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan.

Setelah diaduk menjadi satu, bahan ini terbentuk menjadi dodol karet yang kemudian digiling menjadi lembaran untuk mempermudah proses selanjutnya. Proses ini menghasilkan beberapa jenis lembaran karet yang berbeda baik sebagai bahan kompon maupun pelapis kain anyaman benang nilon.

Proses kedua terdiri dari tiga pengerjaan berbeda yang terpisah yakni menyiapkan bahan kompon, menyiapkan bahan inner ban yang disebut carcass dan menyiapkan kawat tulang ban yang disebut bead.

Proses extruding dalam penyiapan bahan kompon terbilang paling mudah. Kompon yang sudah berbentuk lembaran kembali digiling untuk mendapatkan ukuran yang diinginkan.

Sedangkan proses pembuatan carcass sedikit agak rumit karena memiliki berbagai lapisan yang disebut ply. Untuk produksi satu buah ban motor biasanya dibutuhkan empat ply yang terbuat dari kain anyaman benang nilon dilapis karet. Keempat lembar ply ini kemudian dipress menjadi satu lembaran yang disebut carcass.

Komponen yang terakhir adalah bead. Komponen ini terbuat dari beberapa gulung kawat baja yang dilapis dengan karet keras. Tujuan pelapisan karet ini adalah supaya lebih kuat dan kawat tidak berpindah dari tempat yang telah ditentukan.
 Struktur pada ban sepda motor
Kemudian ketiga komponen ini (carcass, tread atau kompon dan bead) dirakit oleh seorang operator menggunakan mesin carcass drum dengan proses yang disebut building.

Kompon dan carcass yang masih berbentuk lembaran dibulatkan lalu dipasangi bead di sisi kanan kirinya. Setelah terpasang lalu dipompa agar terbentuk ban setengah jadi yang disebut green tire.

Disebut green tire karena ban ini masih mentah dan perlu proses pemasakan yang disebut curing. Ban mentah ini dimasukkan ke dalam cetakan dan dimasak dalam suhu tinggi agar karet ban matang.

Tujuannya adalah membuat sifat karet yang elastis namun kuat menjadi maksimal. Selain itu proses curing ini juga berguna untuk memproses alur ban sesuai yang diinginkan. Ketika dimasak kembangan ban juga dicetak.

Salah satu perbedaan antara IRC dan Zeneos ada disini. Alur ban keduanya berbeda. Tapi melewati tahapan produksi dengan standarisasi yang sama.

Walau sudah kelar diproduksi ban ini tidak boleh langsung dikirim ke pasaran. Harus melalui serangkaian tes untuk mengecek kualitas.

“Hal ini penting untuk memastikan setiap tahapan proses berjalan sesuai persyaratan yang diminta sehingga produk yang dihasilkan berkualitas baik,” tegas Yulfahmi, Technical Manager PT Gajah Tunggal.

“Ini penting karena ban menyangkut safety. Sehebat apapun teknologi motor baik mesin, rangka dan suspensi hanya ditopang oleh telapak ban yang permukaannya hanya menempel sekitar 4x6 cm2. Jadi produksi ban nggak bisa asal-asalan,” tambahnya.

Bahkan sebelum melewati proses produksi ternyata ban-ban ini melewati fase prototype terlebih dulu yang di tes baik di dalam lab, outdoor maupun di sirkuit. Nggak semudah yang bisa dibayangkan yah!  (motorplus-online.com) 


EDITOR

Dimas Pradopo

Top