• otomotifnet.com
  • Home
  • Roda 4
  • Roda2
  • Jip
  • Sport
  • Image
  • Video
  • Forum
  • Forum
Rabu, 23 Maret 2011 13:01 WIB
Modifikasi Yamaha Jupiter-Z 2010

Yamaha Jupiter-Z 2010, Turun Spek Tapi Juara MP5


Di seri 2 MotoPrix region 2, Minggu lalu yang pentas di Parkir PRJ Kemayoran, Jakarta Pusat, mewajibkan penggunaan Pertamax Plus. Berlaku untuk kelas MP5 dan MP6 pemula.

Ini yang membuat mekanik harus menurukan spek motor korekan mereka. Seperti yang dilakukan Sri Hartanto alias Gandoel pada Yamaha Jupiter-Z pacuan Rheza Danica dari Yamaha Rextor GRM.

Namun meski turun spek, hasilnya mengejutkan. Jupiter-Z yang dipacu Rheza juara 1 kelas bebek 125 cc standar pemula alias MP5.

Yang berhubungan dengan penggunaan bahan bakar, sudah tentu rasio kompresi. Harus turun tajam. Pertamax Plus punya oktan 95 maksimal rasio kompresi berada di bawah 12,8 : 1.

Namun Gandhoel lebih suka memilih cara aman. “Kira-kira rasio kompresi hanya dipatok 12,6 : 1,” jelas Gandhoel yang berarti punya makna bergantung. He..he... bener kan mas?

Cara mengukur rasio kompresi versi Gandhoel cukup dari volume ruang bakar. Tekniknya menggunakan buret. Sedangkan kapasitas silinder hanya dari hitungan rumus semata.


Seperti biasa, rasio kompresi didapat dari volume ruang bakar ditambah volume silinder. Baru kemudian hasilnya dibagi volume ruang bakar.

Penyesuaian lain yang dilakukan pria beken di balap ini yaitu timing pengapian. Dibuat lebih dekat TMA. Istilahnya dibikin lebih retard.

Timing pengapian ada hubungan dengan penggunaan bahan bakar. Makin tinggi angka oktanya, akan semakin tahan kompresi. Butuh penyalaan yang lebih awal atau lebih lama.

Asalnya menggunakan bensol dengan angka oktan berada di rentang 105-110. Butuh waktu penyalaan lebih awal atau lebih lama sebelum TMA (Titik Mati Atas) alias top. “Waktu penyalaan api busi dibuat 37 sebelum TMA,” jelas pria yang mengaku punya nama panjang sekali itu.

Namun begitu menggunakan Pertamax Plus yang punya angka oktan lebih rendah, timing pengapian juga ikut dibikin lebih mundur. “Atau waktu penyalaan dibuat jadi lebih singkat. Dekat dengan TMA,” teori Gandhoel.

Akhirnya oleh Gandhoel, seting pengapian dibuat mundur 2 derajat. Timing tertinggi mulai 9.500 rpm dipatok 35°. Makin ke atas dibuat lebih rendah lagi.

Namun konsekuensi penurunan spek, bagaimana pun akan mengurangi performa motor. “Powernya lebih gede menggunakan bensol,” jelas Rheza yang punya bapak bernama Dendit Wibowo itu.

Makanya pada lap-lap awal, hanya berada di posisi ke dua. Namun karena kompresi rendah dan ditunjang gaya balap Rheza mampu menikung lebih sempit, akhirnya bisa juara 1.

Selamat!


Karbu standar direamer sampai habis
Spuyer Naik

Regulasi lama, boleh mereamer karburator standar. Asalkan tidak diganti, silakan direamer sampai abis, tapi gak boleh bolong.

Gandhoel mereamer abis karburator. Sampai skep juga menggunakan buatan dewek alias custom. “Ukurannya lupa, pokoknya lubang skep dikikis sampai tipis sekali,” jujur bapak yang hidupnya bergantung pada sponsor.

Untuk spuyernya juga harus diganti sesuai bahan bakar Pertamax Plus. Asalnya menggunakan bensol main-jet 100, kini dibikin 102. Bagitu pun pilot jet ikut naik 1 step dari sebelumnya.

DATA MODIFIKASI
 Ban : Corsa
Pelek : Takasago 1,60-17
Kampas kopling : FR
Knalpot : Custom
CDI : Rextor


Penulis : Aong


ads

Artikel Lain • Index